Latar Belakang

Lingkup Rumah Adat

Lingkup Rumah Adat

Suku & bahasa. Bahasa yang digunakan di Kabupaten Manggarai Barat termasuk rumpun bahasa Austronesia. Wilayah Kabupaten Manggarai Barat didiami oleh beberapa suku, baik itu suku asli maupun pendatang, yaitu Suku Manggarai, Bajo, Bima, Selayar, Komodo dan suku lain (seperti Ende, Sikka, Sumba, Timor, Jawa dan lain-lain). Suku asli adalah suku Manggarai yang banyak bermukim di pedalaman. Suku Bajo dan Bugis menurut sejarah keduanya berasal dari satu keturunan yaitu keturunan Gowa di Sulawesi Selatan. Suku Bajo lebih dahulu menetap di Labuan Bajo.

Tetua adat. Jabatan ketua adat di Manggarai yang berlaku hingga sekarang adalah tua kilo/tua panga, tua olo, tongka, tua teno. Tua kilo/tua panga menunjuk pemimpin adat dalam masyarakat yang dipilih berdasarkan musyawarah bersama. Tua Golo bertugas untuk memimpin sidang warga kampung yang menyangkut kampung. Tua Teno adalah kepala bagi tanah ulayat. Tongka berfungsi sebagai juru bicara dalam acara perkawinan, antara keluarga kerabat yakni keluarga kerabat anak rona dan keluarga kerabat anak wina.

Hukum adat. Penyelesaian konflik baik menyangkut tanah maupun konflik sosial yang melanggar norma adat, pertama kali diselesaikan pada masing-masing kilo atau suku (panga), tergantung muatan jenis dan pelanggarannya. Setiap persoalan biasanya diselesaikan secara damai dengan mekanisme hambor (perdamaian adat). Setiap keputusan didasarkan pada prinsip ipo ata poli wa tanan nganceng lait kole (apa yang telah diputuskan bersama tidak dapat diganggu gugat). Sangsi terhadap pelanggaran tidak berupa uang melainkan benda atau hewan seperti tuak, ayam, anjing, babi dan lain sebagainya.

Hubungan kekerabatan. Hubungan kekerabatan/kekeluargaan dipahami sebagai hubungan yang terjalin karena pertalian darah perkawinan, karena tempat tinggal yang berdekatan, dan pergaulan hidup sehari-hari. Ada beberapa pengelompokan hubungan kekerabatan/kekeluargaan menurut budaya Manggarai, yaitu asekae (keluarga patrilineal), pa’ang ngaung (keluarga tetangga), anak ronaanak wina/woenelu (keluarga kerabat istri dan kerabat penerima istri), da hae reba (kenalan terdekat).

Jenis-jenis perkawinan. Ada tiga kata kunci dalam hal jenis perkawinan adat Manggarai, yaitu kawing tungku (perkawinan dalam suku sendiri, antara anak saudara dengan anak dari saudari), kawing cako (perkawinan anak dari saudara dalam patrilineal), dan kawing cangkang (perkawinan di luar suku).

Mata pencaharian. Adat istiadat masyarakat Manggarai Barat sangat berkaitan erat dengan sistem mata pencaharian masyarakat. Oleh sebab itu merupakan bagian dari unsur budaya masyarakat. Mata pencaharian pada umumnya adalah nelayan, petani dan pedagang. Suku Manggarai pada umumnya menggeluti bidang pertanian, Suku Bugis pada umumnya di bidang perdagangan, dan Suku Bajo serta Bima menggantungkan diri dari hasil laut, sesuai tradisi nenek moyang mereka. Masyarakat yang mendiami wilayah Manggarai Barat di daratan Pulau Flores mendominasi bidang pertanian, sementara masyarakat yang mendiami pulau-pulau kecil lainnya tersebar di dalam dan di sekitar wilayah Taman Nasional Komodo bermatapencaharian nelayan dan berdagang. Adanya perkembangan masyarakat menuju budaya perkotaan terasa di Kota Labuan Bajo, masyarakat Labuan Bajo yang dulunya dominan bekerja di perikanan laut, bergeser ke sektor jasa dan perdagangan yang mendukung kegiatan pariwisata.

Jenis makanan dan minuman tradisional. Masyarakat Manggarai mempunyai minuman tradisional yang biasa disebut dengan Sopi. Sopi terbuat dari fermentasi air nira yang diambil dari bunga pohon aren/enau, mengandung alkohol berkadar cukup tinggi. Minuman ini selalu hadir dalam setiap upacara-upacara adat. Makanan tradisional lainnya adalah sumbu, rebok, songkol, jagung latung. Dalam upacara penyambutan tamu, biasanya masyarakat Manggarai menyambut dengan cepak (pinang, sirih, kapur) yang diberikan kepada tamu yang baru datang.


Upacara penyambutan tamu secara adat biasa dilakukan
oleh masyarakat Manggarai Barat.

Motif tenun tradisional Manggarai Barat mulai
dikembangkan sebagai pakaian adat pengantin.

Salah satu makanan tradisional di Manggarai Barat
adalah sombu. Jenis masakan yang dibuat dari tepung
jagung dicampur dengan kelapa. Makanan ini biasanya
dikonsumsi sebagai pengganti nasi

Salah satu jenis minuman tradisional di Manggarai Barat adalah Sopi. Sopi adalah minuman beralkohol diolah dari fermentasi air nira dengan cara tradisional
Kesenian Tradisional Kabupaten Manggarai Barat
Tarian Caci merupakan tarian yang
terkenal di Manggarai Barat
 Tarian Sanda yang dipergelarkan
dalam festival budaya di Pantai Pede
Manggarai Barat

Kesenian tradisional dengan ciri khas daerah yang berkembang di Manggarai Barat adalah seni tenun, seni karya, seni sastra, seni suara dan seni tari.

  • Seni Tenun – Dalam seni tenun, corak tenun yang banyak berkembang adalah hitam gelap dengan berbagai motif warna- warni. Dalam setiap motif tenun terkandung makna filosofis. Ciri tenun Manggarai adalah bintang.
  • Seni Tari – Kesenian tari yang biasanya dipentaskan oleh masyarakat Manggarai Barat adalah tarian Caci dan tarian potong padi. Kesenian tari sementara ini hanya dipentaskan di sanggarsanggar yang sejauh ini terdapat 20 sanggar seni budaya, dan dalam momen-momen tertentu.
  • Seni Suara – Kegiatan menyanyi secara tradisional, pada umumnya berkaitan dengan berbagai upacara adat. Berbagai syair yang sakral banyak dilagukan dengan irama yang khas dengan diiringi musik tradisional sederhana seperti gong, gendang, korontong dan nyiru. Untuk lagu daerah yang terkenal adalah sanda dan mbata.
  • Seni Kriya – Seni kriya digunakan dalam pembuatan tenun ikat, anyaman topi pandan, kerajinan gerabah, kerajinan lontar, dan kerajinan bambu.

Gong, gendang, korontong dan nyiru
merupakan alat musik untuk mengiringi
tarian tradisional Manggarai.

Seni suara yang diiringi gendang sering dipagelarkan dalam upacara tradisional Manggarai

Untuk melestarikan seni tari dan seni suara, ada 20 sanggar seni di Kabupaten Manggarai Barat yang secara rutin melakukan kegiatan latihan tari. Sebagian besar sanggar dikelola oleh sekolah dan masyarakat. Pada saat ini, even penyelenggaraan pentas seni tari dan seni suara belum secara rutin dilakukan. Pementasan dilakukan berdasarkan pemesanan. Sanggar tari tersebut menjalin kerja sama dengan pihak biro perjalanan wisata dalam melakukan pementasan bagi wisatawan.


Beberapa jenis motif tenun yang diproduksi kelompok pengrajin tenun Teratai Maha Karya di Manggarai Barat.

Patung komodo, kerajinan gerabah, serta anyaman tikar dari pandan merupakan salah satu hasil seni karya
masyarakat Manggarai Barat

Aset Peninggalan Budaya

Aset peninggalan budaya di Kabupaten Manggarai Barat bentuknya situs, benteng, compang, watu. Situs-situs peninggalan aset budaya tersebut, sampai sekarang belum terkelola dengan baik. Akibatnya banyak situs yang rusak dan hilang. Upaya untuk menjadikan aset budaya tersebut sebagai obyek pariwisata juga belum optimal. Berdasarkan Keputusan Bupati Manggarai Barat Nomor 152/KEP/HK/2006 Tanggal 23 September 2006, jumlah cagar budaya di Kabupaten Manggarai Barat berjumlah 18 aset.

Batu balok yang tersusun karena proses
alam banyak di jumpai di Manggarai Barat

Pola Perkampungan Dan Rumah Adat Masyarakat Manggarai

Pola perkampungan.
Kampung tradisional di Manggarai berbentuk bundar dengan pintu saling berhadapan. Bentuk bulat memiliki makna keutuhan atau kebulatan. Bentuk kampung demikian diperkuat oleh tuturan ritual. Secara mistis kampung dibagi atas tiga, yaitu pa’ang (bagian depan), ngandu (pusat), dan ngaung atau musi (bagian belakang kampung). Pada saat ini, terdapat tiga obyek kampung adat di Kabupaten Manggarai Barat, yaitu Pacar Pu’u di Kecamatan Macang Pacar, Kampung Todo dan Kampung Komodo di Pulau Komodo.

Arsitektur tradisional, termanifestasikan dalam bentuk rumah gendang dan compang.

  • Rumah Gendang – Rumah tradisional Manggarai biasa disebut dengan nama Mbaru Gendang atau Mbaru Tembong. Bentuknya menyerupai seperti kerucut yang terbuat dari rerumputan kering. Struktur bangunan menerus dari atap sampai lantai.
  • Compang – Compang adalah tugu yang dibuat di tengah halaman rumah yang difungsikan sebagai altar dalam upacara adat. Altar tersebut terbuat dari tumpukan batu yang ditengahnya terdapat sebuah pohon. Altar tersebut dikelilingi halaman dan pemukiman penduduk. Lokasi compang biasanya merupakan pusat desa. Compang biasanya difungsikan sebagai tempat untuk persembahan dalam penyelenggaraan upacara adat.
  • Lingko - Lingko adalah sebuah pola pembagian sawah pertanian (berbentuk seperti sarang labalaba) yang ditengahnya terdapat sebuah londok (tempat rahasia). Londok tersebut merupakan sentral dalam pembagian lahan pertanian. Londok merupakan lambang kebersamaan. Bentuk desain londok ini hampir sama dengan design compang yang berada di pusat pusat desa.
 Di wilayah kampung adat Komodo, wisatawan selain dapat menyaksikan komodo juga dapat menyaksikan budaya masyarakat di Pulau Komodo.
Rumah gendang yang asli di Manggarai Barat sulit dijumpai, yang banyak adalah rumah yang dibangun dengan mengambil ide atap rumah gendang yang telah dimodifikasi.

Salah satu ciri khas Manggarai, termasuk Manggarai Barat dalam pembagian tanah pertanian adalah lingko. Di wilayah Manggarai Barat lingko dapat di jumpai di Lembor.

 Masyarakat Tado menyajikan budaya dan adat istiadat mereka dalam paket wisata desa tradisional
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: